ARTIKEL

TADARRUS AL-QUR'AN

Istilah tadarrus Al-Qur'an sebenarnya agak berbeda antara bentuk yg kita saksikan sehari-hari dengan makna bahasanya. Tadarus atau tadarusan biasanya  berbentuk sebuah majelis di mana para pesertanya membaca Al-Qur'an bergantian. Satu orang membaca dan yang lain menyimak. Dan umumnya dilaksanakan di masjid atau musholla di malam bulan Ramadhan.
          Kata tadarrus berasal dari kata darasa yadrusu yg artinya mempelajari, meneliti, menelaah, mengkaji dan mengambil pelajaran. Lalu ditambah huruf ta' di depannya sehingga menjadi tadarasa yatadarasu, maka maknanya bertambah menjadi saling belajar atau mempelajari secara lebih mendalam
          Adapun kegiatan "tadarrusan" yg kita lihat sehari-hari di negeri kita, sepertinya nyaris tanpa pengkajian makna tiap ayat, yang ada hanya sekedar membaca. Bahkan terkadang benar dan tidaknya bacaan itu tidak terjamin. Karna tidak ada ustadz' yang ahli di bidang membaca Al Qur'an.
Bentuk tadarrus seperti ini lebih tepat menggunakan istilah tilawah wal istima' . Kata tilawah berarti membaca dan istima' berasal dari kata sani'a yasma'u yang artinya mendengar,
          Tadarrus Al Qur'an yang sebenarnya berarti membaca dan merenungkan, menalaah dan memahami wahyu-wahyu Alla SWT yang turub pertama kali pada malam bulan Ramadhan (QS, Al Baqarah: 185). Dengan tadarrus Al Qur'an kandungan hikmah yang termuat dan terkumpul di dalam Al Qur'an dapat menjadi kompas penunjuk jalan menuju kebenaran.

Penulis: Prof. HM Hasballah Thalib, MA, Ph.D dan Dr. H. Zamakhsyari Hasballah, Lc,MA


 HIJAB BAGI MUSLIMAH

 Jilbab merupakan pakaian terusan panjang yang menutupi seluruh badan kecuali telapak tangan, telapak kaki dan wajah. Jilbab merupakan jenis pakaian yang biasa dikenakan para Muslimah sesuai dengan syariat Islam. Kata jilbab tercantum dalam Alquran surat al-Ahzab ayat 59 dalam bentuk jamaknya, jalabib.

''Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin: Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali, sehingga tak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.''

Selain itu, dalam surat an-Nur ayat 31 juga tercantum pula kata khumur yang berarti kerudung. ''... Hendaklah mereka menutupkan khumur (kerudung-nya) ke dadanya...'' Pemakaian jilbab disyariatkan bagi setiap mukminat dan Muslimat yang susdah akil-balig.

Seperti disarikan dari Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru van Hoeve, awalnya, penetapan syariat tentang pemakaian jilbab dalam Islam dilakukan secara bertahap. Pertama, dalam surat al-A'raf ayat 26, dijelaskan bahawa Allah SWT telah menurunkan (menyediakan) pakaian bagi manusia untuk menutupi aurat. Kedua, dalam surat  an-Nur ayat 30, Allah SWT memberi petunjuk kepada kaum Mukminin dan Mukminat untuk menjaga pandangan dan kemaluannya.

Ketiga, pada Alquran surat al-Ahzab ayat 33, Allah SWT mengajurkan kepada istri-istri Nabi SAW   agar tetap di rumah dan tak berhias seperti orang Jahiliyah yang cenderung mempertontonkan perhiasan/tubuhnya. Larangan itu  oleh Allah SWT dimaksudkan sebagai usaha menghilangkan dosa dari keluarga Rasulullah SAW.

Keempat, perintah mengenakan jilbab barulah semakin jelas sesuai yang tercantum dalam Alquran surat al-Ahzab ayat 59. Dalam surat itu, Allah memerintahkan kepada Nabi SAW untuk menyerukan agar istri-istrinya, anak-anak perempuannya dan istri-istri orang Mukmin untuk menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.
Sesuai syariat Islam, jilbab berfungsi untuk menutup aurat wanita yang wajib ditutup. Lalu sampai seberapa ukuran tubuh yang harus ditutup dengan jilbab?  Hal itu sangat tergantung pada pemahaman ulama terhadap nas-nas Alquran dan sunah yang bersifat zanni (dapat ditafsirkan), dan pendapat para fukaha (ahli fikih) dalam ijtihad mereka tentang  batas aurat wanita sebagaimana  digariskan dalam firman Allah SWT pada surat an-Nur  ayat 31.
''Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya...''

Sedikitnya ada empat pendapat tentang aurat  tersebut. Pertama, jumhur fukaha  di antaranya mazhab Maliki, Syafi'i, Ibnu Hazm, Syiah Ziadiah, yang masyhur dari  Habli dan salah satu riwayat mazhab Hanafi dan Syiah Imamiah, yang bukan termasuk aurat bagi kamu wanita adalah kedua telapak tangan dan muka.
Kedua, menurut Sufyan as-sauri, Mazin dan salah satu kalangan mazhab Hanafi, yang  termasuk bukan aurat pada wanita adalah muka, telapak tangan, dan telapak kaki. Ketiga, menurut salah satu kalangan pada mazhab Hanbali, sebagian Syiah Zaidiah dan Zahiri, hanya  muka saja yang tak termasuk aurat perempun. Keempat, dalam pandangan Imam Ahmad bin Hanbal dan Abu Bakar bin Abdurrahman, seluruh tubun wanita adalah aurat, tanpa kecuali.

sumber, republika 30 sept 2013


Kiamat dan Waktu

Rabu, 25 Desember 2013, 04:50 WIB

.
Demi Waktu. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hayat Hidayat

Waktu bagi kebanyakan orang hanyalah sebatas tanda pengingat ketika saat jam kantor. Pengingat masuknya waktu salat, pembeda antara siang dan malam, atau sebagai tanda bergantinya tahun demi tahun yang selalu dirayakan.

Namun, sebenarnya waktu jauh dari sekadar pengingat hal-hal yang diungkapkan di atas. Apa itu? Yaitu pengingat akan dekatnya hari kiamat. Hari berakhirnya kehidupan di alam semesta. Mengapa demikian?

Hal ini terungkap ketika kita mencoba menelaah penggunaan kata-kata al-Waqt dalam Alquran yang sering dikaitkan dengan terjadinya peristiwa hari kiamat. Jadi, al-Waqt dalam Alquran lebih menunjukkan kepada hari kiamat.

Kata al-Waqt hanya dipakai dua kali dalam Alquran, yaitu terdapat pada QS al-Hijr ayat 38 dan QS Shad ayat 81 dalam bentuk kalimat yang sama, Ilaa yaumi al-Waqti al-Ma’luum yang artinya sampai waktu yang telah ditentukan. Tak lain, ini merupakan tanda permulaan hari kiamat.

Dengan demikian, hari kiamat adalah hakikat waktu itu sendiri yang mengingatkan kita kiamat telah dekat. Ada masanya di pengujung perjalanan hidup kita di dunia ini akan bertemu dengan kiamat.

Bagaimana tidak? Semakin bertambahnya waktu hari kiamat semakin dekat, bumi semakin tua, hanya tinggal menunggu waktu hancurnya saja, begitu juga umur kita yang semakin lama semakin tua. Semua itu menunjukkan kiamat itu benar adanya.

Logikanya, makanan yang kita makan memiliki masa kedaluwarsa, tumbuh-tumbuhan, hewan, juga manusia akan melewati masanya, yaitu kematian. Begitu juga jagat raya ini, memiliki masa akhir, yaitu kiamat. Jadi, semua pasti ada akhirnya.

Hidup hanyalah sementara, tidak selamanya. “Allah telah menciptakan kamu sekalian dalam keadaan lemah, lalu menjadikan kamu dari keadaan lemah itu menjadi kuat, lalu menjadikan dari keadaan kuat itu lemah dan beruban.” (QS al-Ruum [30]: 54).

Manusia kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT tentang apa yang telah mereka perbuat selama ini. Tidak heran, pertanyaan mendasar yang dilontarkan pada hari kiamat adalah tentang waktu.

Dari Muadz bin Jabal, sesungguhnya Nabi SAW bersabda, “Tidak akan bergeser sepasang kaki seorang hamba pada hari kiamat, sehingga ia ditanya empat perkara; bagaimana umurnya ia habiskan, bagaimana waktu muda ia gunakan, bagaimana harta bendanya didapatkan dan dibelanjakan, dan apa yang telah dikerjakan dengan ilmunya.” (HR Thabrani dengan sanad yang sahih).

Jadi, sudah siapkah kita bertemu dengan hari kiamat? Untuk itu, sudah saatnya kita instrospeksi diri kita, sudah sampai di mana amalan kita? Ke mana saja umur kita habiskan?

Manfaatkalah waktu yang ada sebelum waktu itu berlalu, betapapun panjangnya umur manusia di dunia ini, sesungguhnya ia tetap pendek, selama penutup hidup adalah kematian. Seorang penyair berkata, “Jika akhir usia adalah kematian, tidak ada bedanya panjang atau pendeknya usia itu.”

sumber: Republika 25 Des 2013





Cara Alami Merawat Rambut Rontok

Senin, 20 Januari 2014, 10:31 WIB 




 Tidak perlu mahal untuk merawat rambut rontok. Cukup cari saja bahan-bahan alami yang meriah. Begini caranya: 

1. Bahan:
- Biji kemiri
- Air

Cara menggunakan:
- Biji kemiri dilumatkan dengan air.
- Lumatan dididihkan sampai keluar minyaknya.
- Minyak diambil kemudian disaring.
- Minyak digosokkan pada kulit kepala sebanyak 2-3 kali seminggu

2. Bahan:
- Pohon pisang yang ditebang, bonggolnya dilubangi, kemudian ditutup. - Keesokan harinya air yang terdapat dalam lubang tersebut diambil.
Cara menggunakan: Kulit kepala dibasahi dengan air tersebut sambil dipijat-pijat.


 sumber: Republika 20 Jan 2014



Cara Meraih Doa 70 Ribu Malaikat


Minggu, 15 Maret 2015, 08:27 WIB

Republika online
Oleh: Bahron Ansori 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- “Tiada seorang Muslim pun yang membesuk saudaranya yang sakit, melainkan Allah mengutus baginya 70 ribu malaikat agar mendoakannya kapan pun di siang hari hingga sore hari dan kapan pun di sore hari hingga pagi harinya.” (Musnad Ahmad 2/110).
Syaikh Ahmad Abdurrahman al Banna dalam syarahnya menjelaskan, “Shalawat malaikat bagi anak Adam ialah dengan mendoakan agar mereka diberi rahmat dan magfirah. Sedang yang dimaksud dengan ‘kapan pun di siang hari’, yakni waktu ia menjenguk. Jika ia


menjenguknya pada siang hari, malaikat mendoakannya hingga sore hari dan bila ia menjenguknya pada malam hari, malaikat mendoakannya hingga pagi hari. Karena itu, orang yang berniat hendaknya berangkat sepagi mungkin di awal siang atau bersegera begitu malam menjelang agar semakin banyak didoakan malaikat.
“Siapa yang membesuk orang sakit di pagi hari akan diiringi 70 ribu malaikat, semuanya memohonkan ampun untuknya hingga sore hari dan ia mendapat taman di jannah. Jika ia membesuknya di sore hari, ia akan diiringi oleh 70 ribu malaikat yang semuanya memintakan ampun untuknya hingga pagi dan ia mendapat taman di jannah.”(Musnad Ahmad 2/206, hadis 975).

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya pada hari kiamat Allah SWT berfirman, ‘Hai anak Adam, Aku sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku’.” Dia berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana saya menjenguk-Mu, padahal Engkau adalah Rabb semesta alam?”
Dia berfirman, “Tidak tahukah kamu bahwa hamba-Ku, fulan, sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Tidak tahukah kamu jika kamu menjenguknya, kamu akan mendapati Aku berada di sisi-Nya.”(Diriwayatkan oleh Muslim, No 2569).
Menjenguk orang sakit diperintahkan Rasulullah SAW. Al Bara bin Azib RA meriwayatkan, “Nabi menyuruh kita tujuh hal dan melarang kita tujuh hal. Beliau menyuruh kita untuk mengantarkan jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, menolong orang yang teraniaya, melaksanakan sumpah, menjawab salam, dan mendoakan orang yang bersin. Dan Nabi SAW melarang kita memakai wadah (bejana) dari perak, cincin emas, kain sutra, dibaj (sutra halus), qasiy (sutra kasar), dan istibraq (sutra tebal).” (Bukhari No 1239; Muslim No 2066).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar